Minggu, 25 Maret 2012

Teori Behaviorisme

Oleh: Dede Syarifudin


Teori Behaviorisme atau associationism theory merupakan salah satu teori yang lahir pada akhir abad sembilan belas dan awal abad dua puluh. Teori ini dimulai oleh Pavlov (1849-1936 M) yang telah melakukan serangkaian eksperimen, bagaimana respon lahir berkat adanya stimulus. Hasil eksperimannya menjadi salah satu cabang aliran behaviorisme, yaitu aliran classical conditioning (pembiasaan klasik).
J.B. Watson (1878-1958 M) merupakan peletak dasar dan tokoh utama dalam teori behaviorisme. Menurutnya, objek penelitian psikologi itu hanya terbatas pada studi perlaku lahir manusia. Penelitian psikologi juga menjauhi hal-hal yang tidak bisa diketahui oleh indera termasuk akal, pikiran, kecerdasan, dan yang berhubungan dengan akal pikiran.
Tokoh terkenal lainnya dalam teori ini adalah Skinner, ia membatasi ilmu jiwa sebagai studi yang mengkaji tingkah laku sebagai objek penelitian. Tingkah laku didefinisikan sebagai sesuatu yang lahir dari makhluk hidup, termasuk manusia. Tingkah laku dapat dikontrol, diamati, dan dievaluasi secara objektif. Penganut teori behaviorisme harus memperhatikan hubungan antara stimulus (peristiwa yang terjadi di suatu lingkungan) dengan perilaku makhluk hidup (respon, reaksi, gerak balas). Caranya, yaitu dengan mengamati bagaimana stimulus dapat mempengaruhi tingkah laku.
Edward L. Thorndike (1874-1949), menambahkan kaidah pembiasaan klasik (the law of exercise) ke dalam teori ini. Ia menamakannya hukum efek atau akibat (the law of effect). Menurut Thorndike dan Skinner, pemberian sanksi terhadap peserta didik akan melemahkan hubungan pembelajaran bahkan berdampak negatif terhadap peserta didik, yaitu lupa terhadap unsur yang diajarkan.
Para pendukung teori ini menghasilkan beberapa hukum, antara lain: hukum penghubungan yang dikondisikan, hukum pengulangan, hukum transfer hasil belajar, hukum pemadaman atau pengurangan hasil pembiasaan (hukum jarang guna), hukum hasil pembelajaran atau latihan. Hukum ini diaplikasikan di sekolah dan sangat berpengaruh terhadap hasil evaluasi belajar serta evaluasi aspek kepribadian siswa, termasuk perbedaan antara siswa yang satu dengan yang lainnya.
Teori Behaviorisme dan Pemerolehan Bahasa Ibu
Untuk mendukung teori Pavlov dan Watson, para pakar psikologi Amerika mengaplikasikan hukum behaviorisme terhadap pemerolehan bahasa dan pembelajarannya berdasarkan bahwa pemerolehan bahasa tidak berbeda dengan pemerolehan tingkah laku lainnya, begitu juga dalam hal belajar.
Skinner, dalam bukunya Behavior Modification (Memodifikasi Tingkah Laku) menjelaskan pendapat dan teorinya dalam mempelajari pengalaman pengetahuan dan yang berkaitan dengan upaya mengubah tingkah laku dan kebiasaan. Ia menggunakan istilah baru, yaitu verbal behavior (tingkah laku verbal). Teori ini memusatkan perhatian pada aktivitas bahasa yang bersifat lahir, bukan bahasa yang bersifat komplek. Mereka berpendapat bahwa seorang anak dalam pemerolehan bahasa bersifat pasif, oleh karena itu mereka mengkonsentrasikan pada lingkungan yang ada di sekitar kehidupan anak.
Skinner dan penganut aliran behaviorisme lainnya tidak mempercayai pentingnya aktivitas berfikir saat belajar bahasa, karena tidak bisa diukur dan dianalisis. Mereka hanya memusatkan perhatian pada performance bahasa, tidak memperhatikan competence bahasa yang menjadi perhatian aliran kognitif. Dalam teori verbal behavior ia menganalisis fungsi perilaku verbal dan menentukan variabel-variabel yang mempengaruhi perilaku tersebut dengan maksud mengetahui respon verbal atau reaksi balik secara lisan dari lawan bicara. Menurutnya, bahasa merupakan kemahiran (keahlian) yang berkembang dengan jalan trial and error (mencoba dan salah). Reaksi dan respons yang baik hendaknya disertai oleh reinforcement (penguatan positif). Skinner mengungkapkan tiga cara untuk mengulang respons anak, di antaranya:
  1. Pengucapan lafal yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.
  2. Mengucapkan lafal serampangan, artinya lafal itu dihubungkan dengan sesuatu makna atau pemahaman yang dimilikinya.
  3. Anak mengulang kembali apa yang ia lihat.
Teori Behaviorisme dan Studi Bahasa
Teori psikolinguistik merupakan perpaduan antara teori psikologi dan linguistik. Psikologi dijadikan sebagai parameter untuk melihat karakteristik bahasa, mendeskripsikan, dan kemudian menganalisisnya. Demikian juga parameter dalam memperloleh dan mempelajarinya serta cara mengajarkannya. Atas dasar itu, teori bahasa dikenal dengan teori struktural berdasarkan teori behaviorisme dalam psikologi.
Teori Struktural
Pada akhir abad ke-19, lahirlah teori bahasa yang dikenal dengan aliran analisis struktural (structuralism). Aliran ini didirikan oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913 M). Teori ini merupakan catatan kuliah yang kemudian tertulis dalam sebuah buku berjudul Cours de Linguistiqu Generate (materi kuliah linguistik umum). Untuk menjelaskan analisis strukturalnya, ia menggunakan tiga fase. Pertama, memusatkan perhatian pada tata bahasa tradisional (traditional grammar), yang berdasarkan logika. Kedua, memusatkan pada filologi dan studi teks dengan cara menafsirkan dan mengomentarinya. Ketiga, memusatkan perhatian terhadap filologi perbandingan (comparative philology).
Saussure menjelaskan metodenya dengan mengatakan bahwa studi bahasa yang ditemukannya berdasarkan atas asas bahwa objek linguistik satu-satunya yang valid adalah mempelajari bahasa dengan objek penelitian bahasa dan kepentingan untuk bahasa itu sendiri. Metodenya juga membahas bahasa sebagai bahasa, sebagaimana adanya, dan mempelajari apa yang tampak darinya.
Aliran deskriptif struktural dikenal dengan aliran Genewa (Geneva School), yang melakukan penjelasan sebagai berikut:
  1. Saussure membedakan objek ilmu, yaitu bahasa sebagai perkataan manusia. Ia membedakan tiga istilah: La Parol, La Langage, dan La Langue. La Parol merujuk pada perkataan yang bersumber dari orang tertentu. La Langage merupakan himpunan perkataan seseorang dan kaidah universal bahasa manusia dimana bahasa sebagai pengertiannya yang umum. La Langue adalah bahasa tertentu. Ia memusatkan perhatian pada bahasa tertentu. Menurutnya, bahaa merupakan fenomena kemasyarakatan yang bersifat umum. Sebenarnya, ia terpengaruhi oleh sosiolog modern, Emile Durkheim (1858-1917). Durkheim berpandangan bahwa peristiwa-peristiwa sosial merupakan sesuatu yang menyerupai sesuatu yang lain, yang dipelajari dalam ilmu alam.
  2. Bahasa adalah sebuah sistem yang terdiri dari tanda-tanda bahasa (the linguistic sign) berupa gambar bunyi, dinamakan ad-daal (yang menunjukkan) yang menyatu dengan penggambaran fikiran dinamakan al-madlul (yang ditunjukkan). Hubungan ini bersifat simbolis, kesepakatan, dan arbitrer. Dengan kata lain, dipilih secara acak dan tidak ada hubungan logis antara keduanya. Menurut Saussure, tanda ini mencakup bunyi, kata, klausa, dan kalimat.
  3. Sistem bahasa terdiri dari unsur dalam dan hubungan luar. Unsur dalam tercermin pada sistem dalam suatu bahasa dan hubungan luar tercermin pada studi hubungan antara bahasa dan hal yang mempengaruhinya seperti ilmu jiwa, peradaban, sosiologi, dan sejarah.
  4. Metode deskripsi ini diistilahkan synchronic, kebalikan dari metode historis komparatif atau diachronic. Kajian deskriptif terhadap bahasa adalah mengkaji hubungan masing-masing unsur internal bahasa dengan unsur lain dari sistem bahasa.
  5. Pentingnya menggunakan metode penelitian ilmiah untuk menganalisis dan mendeskripsikan bahasa, terutama matematika.
Para ahli bahasa yang menggunakan metode ini seperti N. Trubetzkoy (1890-1938 M) dan R. Jakobson (1896-1982 M). Mereka membentuk aliran struktural tersendiri dalam menganalisis bahasa yang dikenal dengan nama Prague School. Aliran ini sesuai dengan pokok-pokok teori aliran Geneva. Mereka membedakan ilmu fonetik dan filologi, fokus terhadap aspek fungsional bahasa. Aliran lain adalah Copenhagin School oleh Lois Helmslev (1899-1965 M) dan Otto Jesperson (1869-1930 M). Helmslev lebih banyak menggunakan dasar-dasar matematika formal dalam membuat istilah baru, namun ia sendiri sulit untuk menjelaskannya sehingga teori ini terbatas.
Di Amerika Serikat muncul aliran struktural baru yang memiliki ciri dan keistimewaan tersendiri, yang lebih dikenal dengan nama Bloomfielian School yang dipimpin oleh antroplog F. Boas (1858-1948 M). ia menggunakan metode baru untuk menganalisis dan mendeskripsikan bahasa yang sesuai dengan karakteristik bahasa baru termasuk budayanya.
Tokoh utama lain aliran struktural ialah Edward Sapir (1884-1933 M), ia berorientasi pada studi lapangan dalam mengkaji bahasa, menyatukan antara bahasa dan antroplogi, serta menggunakan manusia sebagai sumber rujukan dalam menghimpun materi bahasanya, yaitu menggunakan penutur asli sebagai informant terhadap bahasa yang akan dijadikan objek penelitian. Menurutnya, ucapan seseorang adalah sesuatu yang bisa diamati dan dianalisis dan bahasa adalah bagian pokok dari kebudayaan dalam pengertian yang luas. Metodenya berpengaruh pada struktur luar bahasa yang didasarkan penutur bahasa dengan berkomunikasi langsung dengan mereka. Ia hanya memfokuskan studi bentuk lahiriah bahasa, tidak berdasarkan makna dan apa yang difikirkan oleh penutur. Struktur bahasa menurutnya ada tiga, yaitu unsur tata bahasa dasar (nahwu asasi), kata, dan kalimat. Perhatiannya terfokus pada ide pola bahasa (linguistic patterns), pola bahasa itulah yang lebih layak dipelajari karena sangat penting bagi kehidupan bahasa, begitu pula dalam berkomunikasi. Pola bahasa yang dimaksud adalah ciri-ciri atau sifat dasar yang dibawa oleh manusia sebagai sistem bahasanya, yanb berbeda dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan realitas seperti yang ada dalam materi bahasa lisan.
Leonart Bloomfield (1887-1949) menginginkan kajian bahasa sebagai studi ilmiah mandiri dan komitmen terhadap metode struktural deskriptif. Studi bahasa hendaknya bersifat deskriptif induktif. Umumnya orang berbicara sehari-hari menggunakan bahasa lisan tanpa melihat bahasa tulis atau bahasa baku. Menurutnya, hanya bentuk lahiriah yang bisa dianalisis oleh metode ilmiah menurut pemahaman yang ia bentuk, kemudian memperhatikannya. Ia lebih memfokuskan diri pada studi perubahan unsur bahasa di dalam struiktur bahasa, tempat dan letak kata ditempatkan. Peletakkan kata itu dikenal dengan istilah distributionalism (metode kajian distribusional). Metode distributional adalah metode kajian dalam analisis bahasa yang memberi perhatian penuh terhadap kajian unsur luar bahasa se4perti fonem, mofem, silabel dan kata. Metode ini melihat unsur terkecil dari yang lebih besar. Distribusi unsur-unsur kalimat dalam struktur bahasa menghasilkan makna substitusi (penggantian).
Contoh kata mobil dan kuda, keduanya memiliki distribusi yang sama karena berada dalam tingkatan bahasa yang sama, yaitu kata benda (isim). Artinya, kedua kata itu bisa berkedudukan sama dalam suatu kalimat. Kalimat ركبت السيارة (saya mengendarai mobil) atau ركبت الفرس (saya menunggangi kuda). Kedua kata ini dapat didistribusikan karena kedua adalah kata benda. Dalam tataran fonem, kita dapat melihat fonem ص dan س juga memiliki distribusi yang sama. Fonem ص dapat didistribusikan ke dalam kata سار menjadi صار.
Metode ini didapatkan dari kaidah bahasa Arab terhadap unsur bahasa seperti definisi tentang isim, fi'il, dan huruf. Isim dikenal karena dapat menerima jar, tanwin, huruf nida dan alif lam (ال). Fi'il dapat dikenali dengan ciri-ciri khusus seperti ta, ta mutakallim, ta ghaibah, ya mukhatabah, dan nun niswah. Sedangkan huruf dapat dikenali karena tidak dapat menerima tanda khusus seperti pada isim dan fi'il.
Morfem, sebagai satuan bahasa terkecil yang memiliki makna atau fungsi gramatikal muncul karena metode distribusional seperti (ون) sebagai morfem jamak mudzakar salim dalam keadaan rafa', atau (ين) dalam keadaan nasab dan jar, seperti contoh المسلمون المسلمين. Huruf (ت) dalam fi'il sebagai morfem dalam mufrad mukhatabah dan murodah ghaibah fi'il mudhari. Seperti dalam kata تضرب yang kemudian huruf ta-nya didistribusikan oleh (ي) sebagai morfem mufrad ghaib menjadi يضرب. Begitu pula tanwin dalam رجلٌ atau alif lam dalam الرجل. Morfem-morfem tersebut merupakan morfem terikat (bound morphemes)
Dengan pemahaman tradisional lahirlah constituent analysis immeiate (analisis bahawan langsung). Metode ini berdasarkan asas bahwa jumlah atau kalimat tidaklah bergaris horizontal yang tersusun dari kata-kata yang berjejer, tetapi tersusun rapi dalam bentuk tertentu. Contoh dalam kalimat زيد الصغير حفظ القرآن .
Konsep dasar metode ini adalah mengklasifikasikan bahasa pada tiga sistem pokok, yaitu ashwat (fonetik), mufradat (kata), dan qawa'id (sintaksis). Sistem qawaid memiliki beberapa tingkatan diantaranya: morfem (murfim), kata (kalimah), frasa ('ibarah), klausa (jumlah), kalimat (kalam), dan wacana (fiqrah). Dalam metode ini, kalimat merupakan kumpulan posisi yang mabni (tetap) atau mu'rab (berubah). Posisi itu berupa fi'il, fa'il, dan maf'ul bih atau mubtada khabar.

Teori Struktural dan Bahasa Arab.
Kajian bahasa di Barat memiliki hubungan dengan para linguistik Arab terjadi pada abad ke-19 M. Namun, metode deskriptif struktural mulai ditransfer pada paruh kedua abad ke-20 M, tepatnya ketika Dr. Ibrahim Anis, linguistik Arab pertama, berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas London. Ia berhasi menyusun tiga buku, yaitu al ashwat al arabiyah (fonetik bahasa Arab), fii al lahjat al arabiyah (dialek bahasa arab), dan dilalah al alfadz (semantik).
Banyak linguis Arab yang menerbitkan buku bahasa yang menyajikan materi dan metode ilmiah. Mereka bersepakat mengkritisi metode para ahli nahwu Arab dalam meletakkan kaidah bahasa Arab. Mereka juga mempraktikkan metode deskriptif struktural terhadap bahasa Arab. Menurut mereka, nahwu Arab telah dipengaruhi oleh logika Aristoteles karena fokus terhadap ta'lil, taqdir, dan ta'wil. Sedangkan penggunaan bahasa orang Arab terdahulu tidak diperhatikan. Mereka juga berpendapat bahwa buku nahwu bahasa Arab tidak berani membedakan tingkatan analisis bahasa (tahlil lughawi). Bahkan bahasa Arab mencampuradukkan fonetik, fonologi, dan sintaksis (ashwat, sharaf, dan nahwu).
Pembahasan mereka dalam kajian bahasa Arab bersifat tematik dengan menunjukkan adanya pendeskripsian struktur-struktur bahasa. Metode ini berdampak positif pada bahasa Arab, namun keberhasilan ini hanya dalam aspek aplikasi, yakni di bidang pengajaran bahasa Arab kepada orang Arab.
Teori struktural ini berkembang hingga akhir tahun kelima abad ke-20 M. Lalu, Noam Chomsky mengemukakan teori generatif transformasinya dalam buku yang berjudul syntactic structures yang terbit tahun 1957 M. Teori ini merupakan revolusi terhadap aliran struktural. Chomsky membuktikan bahwa deskripsi bahasa manapun yang sesuai dengan konsep analisis struktural lahir merupakan hal yang sangat rumit, tidak cukup menafsirkan semua kalimat shahih dalam suatu bahasa dengan sempurna. Menurutnya, deskripsi ini hanya berinteraksi dengan struktur lahirnya saja, sedangkan struktur batinnya tidak. Ia menambahkan bahwa bahasa adalah aktivitas akal, yang membedakan antara manusia dan hewan. Atas dasar itu, tujuan teori bahasa adalah mempelajari aspek akal atau intelektual manusia, dan melihat kemampuannya dalam berbahasa.
Menurut Chomsky, nahwu adalah kaidah yang berdasarkan pada hubungan antara struktur batin – struktur bahasa dalam – dengan penampilan lahir kalimat seperti dalam bentuk tuturan (kalam). Mempelajari struktur bahasa memerlukan hubungan di dalamnya, bukan dari aspek kalimat, melainkan hubungan pemikiran dan pengetahuan (tashwiriyah idrakiyah) yang di dalamnya terdapat peran akal manusia.
Teori Behaviorisme Struktural dan Pembelajaran Bahasa Asing
Kaum behvioris memandang bahwa bahasa adalah adat kebiasaan yang mudah dikontrol dan dikuasai, bagian tingkah laku manusia yang dibentuk oleh pengaruh lingkungan. Lingkungan itu adalah lingkungan alami, seperti anak yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, terutama kedua orangtuanya. Kemudian berlanjut para pendidik, guru, saudara-saudara, teman-teman, media (audio atau audio visual). Dalam tataran pendidikan, lingkungan itu berbentuk kurikulum beserta elemennya, yaitu guru, buku ajar, metode pengajaran, ruang kelas, dan aktivitas belajar mengajar.
Berdasarkan kosep ini, pemerolehan bahasa memerlukan proses belajar dan latihan. Namun untuk belajar pertama, seorang anak tidak perlu pergi ke sekolah, ia hanya melakukan proses belajarnya saja.
Skinner berpendapat bahwa bahasa memiliki karakteristik tersendiri. Bahasa menurutnya bukanlah fenomena akal, tetapi juga tingkah laku manusia. Ia berusaha menafsirkan tingkah laku bahasa berdasarkan tingkah laku dalam ilmu jiwa. Dalam bukunya yang berjudul Verbal Behavior (tingkah laku bahasa) ia menjelaskan bahwa belajar bahasa tidak lain hanya belajar tingkah laku tertentu dengan cara menguasai stimulus.
Tidak sebatas pandangan dan teori, tetapi pertemuan dua aliran ini juga berbentuk hasil praktek. Pada tahun 1950-an lahirlah struktur behavior di bidang pengajaran bahasa asing. Aliran ini dikenal dengan menggunakan aural-oral approach (pendekatan dengan pendengaran dan pengucapan). Teori ini populer di Amerika Serikat karena untuk penetingan militer, politik, dan keamanan. Program ini terfokus pada bahasa komunikasi, mendahulukan kemahiran mendengar dan mengucap. Contoh latihan dalam pengajaran ini disebut pattern drills.
Pattern drills merupakan metode pengajaran susunan kata dan kalimat secara gramatikal. Caranya, dengan mengulang susunan kata atau kalimat dalam jumlah banyak. Dan mengubah unsur kalimat dengan mendestribusikannya. Misalnya, dalam kalimat atau klausa أكل الولد الطعام (anak laki-laki telah makan). Selain itu membiasakan melalui unconscious (ketidaksadaran), yaitu membatinkannya ke dalam fikiran dan jiwa siswa secara tidak langsung.
Perbedaan frekuensi adalah kesulitan yang dihadapi oleh pelajar bahasa asing. Kesulitan lain adalah perbedaan sistem-sistem struktur yang ada pada kedua bahasa, yakni bahasa ibu dan bahasa sasaran. Misalnya perbedaan pada ashwat (fonetik), sharaf (morfologi), nahwu (sintaksis) atau dialah (semantik). Karena itu fokus pada hasil studi kontrastif (dirasah taqabuliyah) kemudian pentingnya tadakhul lughawi (interferensi bahasa) antara dua bahasa.
Salah satu metode yang paling populer adalah audio-lingual method yang mendominasi pengajaran bahasa sejak lahir 1950-an hingga pertengahan abad ke-20 M. Di bawah ini merupakan ciri-ciri audio-lingual method:
  1. Bahasa adalah gejala lisan yang terucap dan tidak tertulis. Karena itu dua keahlian, yaitu mendengar dan mengucap daripada membaca dan menulis.
  2. Setiap bahasa memiliki sistem tersendiri untuk mengungkapkan segala ide atau fikiran. Konsep ini mementingkan analisis kontrastif antara bahasa ibu dan sasaran dan analisis kesalahan (error analysis).
  3. Bahasa adalah tingkah laku yang dipengaruhi oleh stimulus.
  4. Bahasa adalah bahasa yang digunakan oleh penutur secara alami dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Pengajar bahasa hendaknya mengajarkan bahasa itu sendiri.
  6. Pengajar hendaknya menyajikan unsur bahasa secara gradual atau berangsur-angsur dalam memberikan contoh bahasa.
  7. Contoh latihan pattern drills dibuat dengan beragam bentuk, mulai dari pengulangan kata, mengubah, mengganti, menyermpurnakan tempat kosong, dan mencari menjawab pertanyaan.

Tak lama setelah teori ini muncullah teori kognitif (cognitive theory) dan teori generatif transformasi. Di lapangan telah dikenal pula aliran metode lainnya, seperti direct method (metode langsung), dan natural method (metode alami).
Metode audio lingual ini diterima oleh non Arab karena tiga hal, di antaranya:
                     1.         Tersebarnya metode audio lingual karena memiliki hubungan erat dengan metode struktural behavior.
                     2.         Metode audio lingual muncul sebagai metode yang paling populer di bidang pengajaran bahasa yang hidup.
Para linguis merasa puas dengan konsep yang dibawa oleh teori ini, yaitu dengan teori struktural-deskriptif yang menyatu dengan pandangan behaviorisme.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Suka, bagikan di sini

Lihat di You Tube

Loading...